SatwaEndemik, Kura-kura Leher Ular Punah di Pulau Rote, Ini Penyebabnya
– Kepulauan Mentawai yang berada di Provinsi Sumatera Barat dikenal memiliki keanekaragam hayati yang tinggi. Terdiri dari empat pulau besar yaitu Siberut, Sipora, Pagai Selatan dan Pagai Utara serta terdapat 94 buah pulau kecil lainnya. Siberut merupakan pulau terluas yang didalamnya terdapat kawasan Taman Nasional Siberut yang memiliki kekayaan flora dan fauna. Tingkat endemisitas disana sangat tinggi yaitu 15% flora dan mencapai 65% untuk mamalia. Dari 29 mamalia yang tercatat di Pulau Siberut terdapat 21 spesies endemik. Empat diantaranya jenis primata endemik hanya dimiliki oleh Kepulauan Mentawai. Empat jenis primata endemik tersebut yaitu Joja atau Lutung Mentawai Presbytis potenziani, Simakobu atau Monyet Ekor Babi Simias concolor, Bokkoi atau Beruk Mentawai Macaca Pagensis, serta Bilou atau Siamang Kerdil Hylobates klosii. Keempat primata ini termasuk kedalam hewan yang dilindungi, sehingga dilarang dalam segala bentuk perburuan dan perdagangan satwa.. Nah, kali ini kita akan mengenal lebih dekat dengan primata endemik Kepulauan Mentawai Lutung Mentawai/ Joja Primata yang satu ini dapat ditemukan di beberapa habitat seperti hutan primer dan sekunder, dataran rendah seperti hutan rawa, sekitar daerah perladangan sampai perbukitan di Kepulauan Mentawai. Lutung Mentawai terdiri dari 2 subspesies yaitu Presbytis potenziani potenziani yang tersebar di Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Selatan serta Presbytis potenziani siberut yang tersebar di Pulau Siberut. Lutung Mentawai ini memiliki ciri-ciri yakni punggung hitam berkilat, bagian perut berwarna coklat tua, putih sekitar muka dan leher serta ekor yang panjang dan hitam seperti sutera. Lutung Babi Mentawai /Simakobu Simakobu memiliki habitat yang sama dengan lutung Joja. Simakobu juga terdiri dari 2 subspesies yaitu Simias concolor concolor yang tersebar di Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Selatan serta Simias concolor siberu yang tersebar di Pulau Siberut. Primata ini memiliki warna tubuh cokelat gelap keabu-abuan dan ada juga yang berwarna keemasan dengan warna rambut pada jambul kepala dan bahu lebih gelap. Kaki dan tangan berwarna kehitam-hitaman. Beruk Mentawai Satwa endemik yang satu ini kerap kali ditemui di beberapa habitat seperti hutan bakau, hutan pantai, hutan sekunder, hutan primer, dan hutan-hutan di dekat pemukiman warga. Beruk ini terdiri dari 2 subspesies yaitu Macaca pagensis pagensis yang tersebar di kawasan Sipora, Pagai Utara dan Selatan serta Macaca pagensis siberut yang tersebar di Pulau Siberut. Primata endemik ini memiliki ciri khas yaitu warna rambut bagian pipi berwarna putih dengan mahkota berwarna coklat. Lalu rambut pada dahi, puncak dan mantel agak panjang serta jambang pada pipi berwarna kelabu kecoklatan dan mempunyai batas yang jelas. Siamang Kerdil Masih sama dengan habitat satwa endemik lainnya, habitat siamang kerdil juga berada di tengah hutan primer/sekunder dan daerah pantai hingga perbukitan. Tubuh primata ini ditutupi rambut berwarna hitam, namun rambut tumbuh jarang dan tidak selebat seperti keluarga owa yang lainnya. Seperti kerabatnya, kera ini juga memiliki suara khas dengan alunan suara yang lebih merdu dibandingkan jenis siamang lain. Itulah informasi mengenai satwa endemik Kepulauan Mentawai, khususnya jenis primata endemik. Semoga dapat bermanfaat bagi kamu yang sedang mencari info mengenai primata endemik yang ada di Kepulauan Mentawai ya. ran
7 Bajing Tanah (Lariscus hosei) endemik pulau Kalimantan. 8. Bajing Telinga Botol (Callosciurrus adamsi) endemik Kalimantan. 9. Banteng (Bos javanicus) hewan endemik Jawa. 10. Bekantan atau Kera hidung panjang (Nasalis larvatus) endemik Kalimantan. 11. Beruk Mentawai (Macaca pagensis) endemik Kepulauan Mentawai. 12.
Jakarta - Indonesia memiliki keanekaragaman hayati satwa primata tertinggi di dunia. Negara yang dilewati oleh garis zamrud khatulistiwa dan memiliki iklim tropis ini memiliki 61 spesies dari sekitar 479 spesies di besar ilmu Biologi Institut Pertanian Bogor IPB Rd Roro Dyah Perwitasari menyebut satwa primata Indonesia tersebut terdiri atas 5 famili dari 11 genus. Bahkan 38 spesies di antaranya adalah endemik."Hampir di semua wilayah geografi di Indonesia bisa ditemukan satwa primata native, kecuali Papua. Satwa primata endemik terbanyak berada di Sulawesi disusul oleh kepulauan Mentawai, Sumatra," ujarnya dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar, Kamis 5/8/2021.Menurut pengajar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam itu, satwa primata Indonesia menghadapi ancaman berupa kehilangan habitat akibat perubahan iklim dan aktivitas menekankan pentingnya konservasi genetik dan aplikasinya untuk konservasi satwa primata sebelum punah tanpa data biologi yang lengkap dan rinci. Konservasi genetik satwa primata bertujuan untuk mengurangi risiko kepunahan dengan memperhatikan proses-proses genetik dan melestarikan potensi adaptasi spesies."Tarsius dan monyet ekor panjang Sulawesi dianggap sebagai hotspot keanekaragaman hayati. Posisi geografis dan isolasi biogeografi Sulawesi berkontribusi pada jumlah spesies mamalia endemik yang tinggi," kata Dyah."Salah satu satwa primata endemik di Sulawesi, nokturnal terkecil di dunia yaitu kelompok tarsius. Saat ini kelompok tarsius masuk dalam Daftar Merah IUCN dan dilindungi melalui Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan LHK RI."Dari studi molekuler, Dyah berhasil mengungkap hibridisasi alami yang terjadi antar dua spesies Tarsius yang mempunyai habitat berbatasan yakni T. lariang dan T. dentatus. Berdasarkan analisis berbagai marka genetik, warna rambut, rambut ekor dan vokalisasi, ditemukan spesies baru yang diberi nama Tarsius wallacei sp. ini untuk menghormati Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris dan salah satu penemu seleksi alam. Spesies baru ini, menurut Dyah menempati rentang habitat yang diskontinu di Sulawesi."Identifikasi spesies Tarsius juga dilakukan di penangkaran Pusat Studi Satwa Primata, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB University. Identifikasi dilakukan secara molekuler menggunakan sampel non-invasif berupa feses untuk memastikan nama spesies Tarsius tersebut," identifikasi menurut Dyah agar tidak terjadi kesalahan dalam memasangkan individu dalam kegiatan reproduksi. Analisis DNA mitokondria menunjukkan di penangkaran ada dua spesies Tarsius yaitu Tarsius spectrumgurskyae dan dua Cephalopachus Tarsius, Dyah juga meneliti aspek genetik monyet ekor panjang yang ditemukan di Papua. Papua tidak termasuk ke dalam distribusi geografik alami monyet ekor panjang di karena itu monyet ekor panjang di Papua secara definisi dapat disebut sebagai spesies eksotik atau asing. Berdasarkan rekonstruksi pohon filogenetik DNA mitokondria, sampel Papua mengelompok dengan sampel Kalimantan bersama-sama dengan haplotipe dari pulau Jawa, Timor, Mauritius dan hasil risetnya ini, Dyah menyimpulkan bahwa komponen kunci dalam konservasi genetik adalah pengembangan metode molekuler non-invasif untuk asesmen dan memonitor populasi satwa primata liar. Sumber DNA non-invasif yang paling umum digunakan yaitu rambut dan feses."Konservasi genomik menggunakan teknik genomik dapat mengatasi masalah yang terjadi dalam biologi konservasi. Dibanding dengan konservasi genetik, konservasi genomik dapat berkontribusi sangat besar dengan peningkatan penggunaan jumlah marka di seluruh genom. Peningkatan jumlah marka akan meningkatkan akurasi dan presisi dalam estimasi," ia menyayangkan, informasi genetik ini belum dimasukkan ke dalam kebijakan keanekaragaman hayati nasional. Oleh karena itu, kontribusinya masih relatif kecil terhadap pengelolaan dan konservasi populasi satwa primata."Jika kita ingin melestarikan populasi satwa primata, peneliti di universitas dan lembaga penelitian perlu memasukkan kajian genetik dalam kebijakan dan pekerjaan konservasi praktis," juga mengatakan informasi genetik dan genomik mempunyai peran utama dalam penanggulangan kejahatan dan perdagangan satwa liar ilegal di Indonesia."Informasi karakter dan keragaman genetik juga perlu jadi pertimbangan dalam strategi konservasi satwa primata dan satwa liar lainnya ke depan," katanya. Simak Video "Edisi 44 Ulasan Peneliti soal Darurat COVID-19 Dicabut, hingga Dosen IPB Ciptakan Aplikasi Translator Tangisan Bayi" [GambasVideo 20detik] pal/lus
MaksudSpesies Endemik. Jul 10, 2021. Pengertian Spesies endemik dan contohnya Mengintip Penghuni Asli Kepulauan Galapagos. Spesies endemik — pengertian dan contoh - ApaYangDimaksud.com. Fauna Peralihan - Pengertian, Contoh Hewan di Indonesia & Cirinya Lingkungan Hidup Ini: Pengertian Spesies Asli, Endemik, dan Introduksi. Taman 1. Berikut ini spesies endemik kepulauan Mentawai, kecuali . . . . a. Macaca pignensisb. Simias concolorc. Hylobates klosiid. Presbytis potenzianie. Varanus komodoensis2. Berikut ini yang bukan merupakan ekosistem bioma yang ada di Indonesia adalah . . . .a. Ekosistem savanab. Ekosistem hutan hujan tropisc. Ekosistem padang rumputd. Ekosistem gurune. Ekosistem hutan gugur 1. e .varanus komodoensis2. d. gugur
Katakunci: primata endemik, bilou, metode garis transek, monogami PENDAHULUAN Indonesia memiliki satwa primata endemik, salah satunya yaitu bilou (Hylobates klossii), yang termasuk ke dalam genus Hylobates. Bilou merupakan satwa primata endemik Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Bilou dapat ditemukan di empat pulau di Kepulauan Mentawai
Jakarta - Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia TSI dan Taman Nasional Siberut melakukan kegiatan survey keanekaragaman jenis-jenis primata endemik Kepulauan Mentawai pada Juli 2017 hingga Maret - April 2018. Hasil survey tersebut menunjukkan data bahwa populasi empat jenis primata endemik di Kepulauan Mentawai cenderung menurun. Adapun 4 jenis primata endemik tersebut di antaranya bilou atau siamang kerdil Hylobates klosii, joja atau lutung mentawai Presbytis potenziani, monyet ekor babi Simias concolor dan bokkoi atau beruk Mentawai Macaca pagensis. Keempat jenis primata ini tersebar merata di daerah Researcher Taman Safari Indonesia, Walberto Sinaga, menjelaskan laju penurunan populasi primata endemik ini diakibatkan oleh beberapa faktor. "Faktornya perburuan liar, rusaknya habitat akibat deforestasi, dan perambahan hutan. Penurunan populasi juga disebabkan adanya ancaman manusia yang mencakup perburuan dan hilangnya habitat karena manusia terus menebang hutan-hutan tropis secara besar-besaran, membangun jalan, pemekaran wilayah, dan menambang," jelas Walberto kepada detikcom Kamis 25/10/2018. Walberto turut mengungkapkan menurunnya populasi memang tidak bisa dikatan langsung terancam punah. Melainkan harus melalui kajian penelitian terlebih dahulu. "Akan tetapi jika di suatu daerah pernah dilakukan penelitian populasi dengan temuan jumlah yang besar dan dalam beberapa tahun kemudian dilakukan penelitian kembali tidak ditemukan atau populasi menurun, maka spesies dapat dikatakan terancam. Untuk mempertahankan keragaman genetik primata, minimal populasi berukuran 50-500 individu agar populasi dapat berkembang biak," atau beruk Mentawai menjadi salah satu primata endemik Kepulauan Mentawai yang populasinya menurun Foto Dok Taman Safari IndonesiaOleh karena itu, TSI melakukan survey ini demi mengetahui jenis-jenis, populasi, dan penyebaran primata endemik Kepulauan Mentawai serta mengindentifikasi tindakan-tindakan konservasi lanjutan yang akan dilakukan ke depannya."Langkah pertama Taman Safari Indonesia dalam mengatasi penurunan populasi primata endemik di Kepulauan Mentawai dengan cara melakukan penelitian dahulu terhadap jumlah populasi di alam. Selanjutnya melakukan kegiatan konservasi melalui program monitoring populasi satwa, membantu Taman Nasional Siberut membangunkan kandang sementara untuk primata yang disita dan akan dilepaskan balik ke hutan," depannya, TSI juga akan melakukan konservasi edukasi untuk masyarakat Mentawai yang hidup dekat dengan tempat tinggal primata tersebut. Dimulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA dengan tujuan agar masyarakat teredukasi sejak dini mengenai pentingnya konservasi satwa primata. "Dari sisi pencegahan terhadap satwa primata endemik dilakukan koordinasi antar tokoh adat, tokoh pemuda, instansi pemerintah, dan lembaga-lembaga yang terkait terhadap kawasan di Kepulauan Mentawai," pungkasnya. ega/idr
Berikutini adalah spesies-spesies paus paling besar di dunia, yang layak kita ketahui. FAKTA UNIK DAN MENAKJUBKAN. Paus Biru SEPUTAR DUNIA HEWAN. Mamalia laut ini masuk ke dalam subordo paus balin dan dipercaya sebagai hewan paling besar yang pernah ada. Panjangnya lebih dari 33 meter, dengan berat mencapai 181 ton atau lebih.
Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat merupakan salah satu pulau terindah di Indonesia yang patut dikunjungi. Terdiri dari empat pulau besar yaitu Siberut, Sipora, Pagai Selatan dan Pagai Utara serta terdapat 94 buah pulau kecil, menjadikan Mentawai pulau yang sangat indah dan menjadi tujuan wisata. Sebagai pulau terluas diantara tiga pulau lainnya, Pulau Siberut memiliki kekayaan jenis tumbuhan dan satwa endemik, sehingga sering menjadi tempat penelitian. Tercatat ada 846 jenis tumbuhan, dari 390 genus dan 131 suku, meliputi pohon, semak, herba, liana dan epifit. Sebanyak 503 jenis tumbuhan diantaranya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bahan obat tradisional. Pulau Siberut menjadi kawasan yang fenomenal dan unik karena tingkat endemisitas yang sangat tinggi yaitu 15% flora dan mencapai 65% untuk mamalia. Dari 29 mamalia yang tercatat di Pulau Siberut terdapat 21 spesies endemik. Empat diantaranya jenis primata yang hanya dimiliki oleh Kepulauan Mentawai yaitu bilou atau siamang kerdilHylobates klossii, simakobu atau monyet ekor babi Simias concolor, bokkoi atau beruk mentawai Macaca pagensis, dan joja atau lutung mentawai Presbytis potenziani. !break! Bilou atau siamang kerdil Bilou atau siamang kerdil Hylobates klossii merupakan jenis primata yang paling terkenal di Mentawai. Bilou memiliki bulu-bulu yang jarang berwarna hitam gelap dan terdapat selaput antara jari kedua dan ketiga. Primata monogami ini hidup secara berkelompok yang terdiri dari induk jantan dan betina dengan anak-anaknya yang belum dewasa, dengan satu keluarga rata-rata tiga sampai empat individu. Sedangkan jumlah anggota dalam satu kelompok dapat mencapai 11 individu. Sebagai jenis arboreal tertua yang masih hidup, bilou merupakan jenis primata yang paling banyak menghabiskan waktu di atas pohon yang tinggi lebih dari 20 meter dengan pakan yang disukainya adalah Ficus sp, nibung liana dan tangkai. Pekik bilou paling sederhana, lebih panjang dan bervariasi diantara pekikan jenis kera arboreal lainnya. Siamang kerdil ini jarang turun ke tanah, karena termasuk satwa yang pergerakannya banyak menggunakan lengan-lengan yang panjang untuk berpindah/melompat dari satu pohon ke pohon yang lain sehingga sulit bergerak di permukaan tanah. Karena arboreal, menjadikan bilou jenis primata yang hidupnya paling dipengaruhi oleh kegiatan penebangan hutan. Primata Arboreal Unik Sedangkan joja atau lutung mentawai Presbytis potenziani mempunyai bentuk yang paling indah diantara primata endemik, dengan punggung hitam berkilat, bagian perut berwarna coklat tua, putih sekitar muka dan leher dan ekor yang panjang dan hitam seperti sutera. Meskipun termasuk dalam genus tropis Asia yang besar dan menyebar luas, joja memiliki keunikan dalam banyak hal. Betina dewasa dan jantan pasangannya ikut serta dalam pekikan dan peragaan tantangan terhadap kelompok lain, tidak seperti kera arboreal jenis lainnya, karena hanya jantan saja yang melakukan kedua hal tersebut. Joja biasanya mengeluarkan bunyi sebelum fajar dan dijadikan sebagai tanda teritori kelompoknya sehingga kelompok-kelompok binatang lainnya dapat menghindarkan diri. Primata arboreal sejati ini, hampir sepanjang hidupnya tinggal di pohon dan jarang sekali turun ke tanah. Makanannya terdiri dari setengahnya berupa buah-buahan, 35% daun-daun dan 15% biji-bijian, kacang, bunga dan materi tumbuhan lainnya. !break! Bekantan Mentawai Simakobu atau monyet ekor babi Simias concolor termasuk kedalam keluarga bekantan. Tetapi simakobu sangat berlainan dari bekantan dan semua bentuk monyet lainnya karena ekornya yang pendek menyerupai ekor babi, badan yang gemuk pendek dan anggota-anggota badan yang sama panjang. Ada dua jenis warna bulu simakobu yaitu kelabu tua dan keemasan. PROMOTED CONTENT Video Pilihan
Berikutini adalah teks laporan dengan tema hewan langka. Bacalah teks tersebut . dengan teliti. Sambil membaca, kerjakan soal nomor 1 sampai dengan nomor 3. Setelah . itu, kerjakan tugas nomor selanjutnya. (1) Perhatikan bahwa subjudul yang ada pada teks yang kalian baca ini adalah tahap . Hewan Endemik – Grameds pasti sudah tahu bahwa negara kita Indonesia ini merupakan negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau dengan keanekaragaman hayati, salah satunya adalah satwa endemik. Satwa endemik sama saja dengan hewan endemik, yang pada dasarnya adalah hewan asli yang berhabitat di suatu daerah tertentu. Yap, hewan endemik ini dapat disebut bahwa mereka adalah spesies satwa alami yang hanya dapat ditemukan di suatu daerah tertentu saja dan tidak dapat ditemukan di daerah lain. Berhubung negara kita memiliki ribuan pulau dengan keanekaragaman hayati yang salah satunya adalah hewan endemik, maka itu berarti jumlah dari hewan endemiknya juga ada banyak. Bahkan tidak dipungkiri bahwa dalam satu pulau saja akan tersebar puluhan hingga ratusan hewan endemik yang memiliki keunikan dan ciri khas tertentu. Wah menarik ya! Lalu, apa sih hewan endemik itu? Apa saja hewan endemik yang ada di pulau-pulau besar Indonesia? Bagaimana pula cara pelestarian yang tepat supaya hewan-hewan tersebut tidak punah di masa depan? Nah, supaya Grameds memahaminya, yuk simak ulasan berikut ini! Apa Itu Hewan Endemik?Hewan Endemik di Pulau Sumatera1. Harimau Sumatera2. Badak Sumatera3. Orangutan Sumatera4. Monyet Kedih5. Gajah SumateraHewan Endemik di Pulau Jawa1. Harimau Jawa2. Badak Jawa3. Macan Tutul Jawa4. Elang Jawa5. Kukang JawaHewan Endemik di Pulau Kalimantan1. Orangutan Kalimantan Orangutan Borneo2. Rangkong Papan3. Monyet Bekantan4. Ikan Pesut MahakamHewan Endemik di Pulau Sulawesi1. Burung Maleo2. Kuskus Beruang Sulawesi3. Tarsius4. Babi RusaHewan Endemik di Pulau Papua1. Kanguru Pohon Mantel Emas2. Burung Cendrawasih3. Labi-Labi Moncong Babi Apa Itu Hewan Endemik? Menurut Kurniawan 2016, istilah “endemik” dalam dunia satwa adalah suatu gejala yang dialami oleh organisme tertentu supaya dapat menjadi unik pada satu lokasi geografi tertentu, mulai dari pulau, negara, atau zona ekologi tertentu. Pada dasarnya, hewan endemik adalah hewan-hewan yang secara alami hanya dapat ditemukan dan hidup di suatu tempat tertentu saja, alias tidak dapat ditemukan di tempat lain. Hewan endemik tentu saja memegang peranan penting dalam ekosistem dunia, sebab jika keberadaannya punah maka ekosistem dunia termasuk wilayah yang bersangkutan juga akan turut punah. Mengingat seiring perkembangan zaman seperti saat ini, manusia mulai memanfaatkan potensi alam secara bar-bar. Padahal hal tersebut justru mempengaruhi kelangsungan hidup hewan-hewan yang berada di alam, sehingga sama saja dengan tindakan ancaman bagi hewan endemik. Di negara kita ini ternyata memiliki tingkat endemisme yang tinggi, yakni lebih dari 165 jenis mamalia endemik, 150 jenis reptilia, 397 jenis burung, dan 100 spesies amfibi tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Bahkan tak jarang di dalam suatu pulau, terdapat puluhan jenis hewan endemik yang memiliki ciri khas tersendiri. Hewan Endemik di Pulau Sumatera 1. Harimau Sumatera Sesuai dengan namanya, hewan endemik yang mempunyai nama latin Panthera Tigris Sumatrae ini menjadi spesies endemik asli dari Pulau Sumatera dan masih bertahan hidup hingga saat ini. Ciri utama dari harimau sumatera adalah ukuran tubuhnya yang mana lebih kecil dibandingkan jenis harimau pada umumnya, serta memiliki corak loreng hitam gelap. Berhubung jenis harimau ini adalah hewan endemik, maka harimau sumatera hanya di hidup Pulau Sumatera saja, yang biasanya berhabitat di hutan dataran rendah dan hutan pegunungan. Hingga saat ini, jumlah populasinya hanya tinggal sekitar 400 ekor saja. Untuk menghindari kepunahan akibat perburuan liar, maka kebanyakan harimau sumatera di ditempatkan di Cagar Alam dan Taman Nasional. Kemudian, sekitar 250 ekor hidup di berbagai kebun binatang yang tersebar di seluruh dunia. Harimau sumatera juga termasuk dalam daftar hewan dilindungi oleh pihak pemerintah Indonesia, berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 2. Badak Sumatera Perlu Grameds ketahui bahwa sebagai salah satu satwa yang terancam punah, 5 spesies badak yang ada di dunia, 2 diantaranya hidup di Indonesia, yakni Badak Sumatera dan Badak Jawa. Badak Sumatera dengan nama latin Dicerorhinus Sumatrensis menjadi satu-satunya badak Asia yang memiliki dua cula. Sayangnya, saat ini keberadaannya menjadi punah akibat perburuan liar untuk diambil culanya. Cula badak sumatera ini dipercaya dapat menjadi obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit, meskipun sebenarnya tidak ada penelitian ilmiah yang terkait akan kepercayaan tersebut. Ditambah lagi, susunan dalam cula badak itu serupa dengan kuku dan rambut manusia, sehingga jelas tidak memiliki khasiat penyembuhan apapun. Populasinya saat ini hanya kurang dari 80 ekor saja dan rata-rata tersebar di wilayah Taman Nasional Bukit Barisan, Taman Nasional Gunung Leuser, dan Taman Nasional Way Kambas. Habitat badak sumatera kebanyakan adalah di daerah berbukit yang dekat air, hutan hujan tropis, hutan lumut pegunungan, hingga daerah pinggiran hutan. Beruntungnya, pada 24 Maret 2022 lalu, seekor badak sumatera bernama Rosa yang ada di Taman Nasional Way Kambas, Provinsi Lampung, berhasil melahirkan anak berjenis kelamin betina. Kelahiran ini tentu saja menambah jumlah populasi badak sumatera yang ada di taman nasional tersebut. 3. Orangutan Sumatera Sumatran orang utan Pongo abelii female Suma’ swinging through the trees with male baby Forester’ part of baby snatching story Gunung Leuser NP, Sumatra, Indonesia Di Indonesia, terdapat tiga spesies orangutan sebagai hewan endemik, yakni orangutan sumatera, orangutan kalimantan, dan orangutan tapanuli. Ketiga spesies ini termasuk dalam daftar hewan dilindungi sebab hutan tempat tinggal mereka selalu menjadi sasaran pembabatan hutan secara liar. Orangutan sumatera dengan nama latin Pongo Abelii ini memiliki ukuran lebih kecil daripada orangutan kalimantan, yakni tinggi sekitar 4,6 kaki dan berat 200 pon saja. Orangutan sumatera justru memiliki perilaku lebih bersosial dibandingkan dengan orangutan kalimantan, yang mana lebih suka berkumpul untuk makan sejumlah buah di dekat pohon secara bersama-sama. Saat ini, terdapat 13 kantong populasi orangutan yang tentu saja berada di Pulau Sumatera, yang mana hanya tiga kantong tersebut memiliki sekitar 500 ekor dan tujuh kantongnya memiliki 250 ekor. Pada 31 Mei 2022 lalu, seekor orangutan sumatera berusia 3 tahun bernama Kaka diserahkan oleh warga Bogor kepada pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera, guna dipulangkan ke habitat aslinya. 4. Monyet Kedih Monyet kedih menjadi primata asli alias hewan endemik yang terdapat di Pulau Sumatera, khususnya di Sumatera Utara. Monyet kedih dengan nama latin Presbytis Thomasi ini memiliki ekspresi yang tenang dan termasuk pada hewan pemalu. Penyebaran primata ini adalah di kawasan hutan Aek Nauli sampai Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Secara alami, monyet kedih hidup secara berkelompok yakni sekitar 10 ekor, yang meliputi 1 jantan dan 6 betina, sisanya adalah anak-anak mereka. Monyet kedih memiliki perilaku yang khas, yakni suara vokal kuat dari masing-masing kelompoknya. Sehingga dapat disebut juga bahwa monyet kedih akan mengenali anggota kelompoknya berdasarkan suara vokal tersebut. 5. Gajah Sumatera Gajah Sumatra dengan nama latin Elephas Maximus Sumatranus ini memiliki ukuran yang lebih kecil daripada gajah afrika. Kebanyakan gajah sumatera ditangkarkan di Way Kambas Lampung, tetapi ada juga yang dikembangbiakkan di Tangkahan, Langkat. Menurut survey pada tahun 2007, jumlah populasi dari gajah sumatera yang tersisa adalah sekitar ekor, tetapi jumlahnya semakin menurun akibat perburuan liar yang marak terjadi akhir-akhir ini. Hewan Endemik di Pulau Jawa 1. Harimau Jawa Keberadaan harimau jawa ini dapat disebut sebagai punah sebab telah diumumkan secara resmi oleh pihak International Union for Conversation Nature. Jenis harimau dengan nama latin Panthera Tigris Sondaica ini telah dinyatakan punah pada tahun 1980-an. Bahkan, harimau jawa yang terakhir terlihat ada di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, itu pun pada tahun 1976. Punahnya hewan endemik ini disebabkan karena perburuan liar yang dilakukan secara bar-bar. Meskipun pada tahun 1990-an, telah banyak laporan mengenai kemunculan harimau jawa ini, tetapi tidak dapat dilakukan verifikasi lebih lanjut. Kemudian pada tahun 1998, di Universitas Gadjah Mada UGM, pernah melakukan sebuah seminar nasional yang menyepakati bahwa peneliti harus melakukan peninjauan kembali atas klaim punahnya hewan endemik ini. Hal tersebut karena banyak bukti yang ditemukan dan berkaitan dengan “kembalinya harimau jawa” ini. 2. Badak Jawa Sebenarnya, keberadaan badak jawa tidak hanya berhabitat di pulau Jawa saja, tetapi juga di negara Vietnam, Laos, Kamboja, hingga Thailand. Namun, di Vietnam pada tahun 2010, populasi dari hewan endemik ini dinyatakan telah punah. Sementara di Pulau Jawa, terutama di Taman Nasional Ujung Kulon, keberadaan badak jawa juga terbatas. Pada tahun 2017, jumlahnya sekitar 67 ekor saja yang tersebar di Semenanjung Ujung Kulon. Daerah sebaran tersebut sesuai dengan habitatnya yang berupa daerah dataran rendah dengan cukupnya sumber air dan pangan. 3. Macan Tutul Jawa Hewan endemik dengan nama latin Panthera Pardus ini juga memiliki nama lokal yakni macan kumbang. Apabila dibandingkan dengan macan tutul lainnya, hewan endemik ini memiliki ukuran yang lebih kecil dan indra penglihatan serta penciumannya yang tajam. Sayangnya, macan tutul jawa saat ini tengah berada di ambang kepunahan akibat pemburuan liar. Pada tahun 2008, populasi dari macan tutul jawa hanya 250 ekor saja. Sebagian besar populasinya dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. 4. Elang Jawa Apakah Grameds tahu jika lambang negara Indonesia yakni Garuda itu adalah penjelmaan dari elang jawa? Sebenarnya, Burung Garuda yang berukuran besar itu tidak ada di dunia nyata, sebab merupakan hewan mitologi. Namun, burung Garuda dapat kita lihat kok sebab merupakan penjelmaan dari elang jawa. Sayangnya, hewan endemik yang sekaligus menjadi penjelmaan lambang negara Indonesia ini justru semakin langka untuk ditemukan. Padahal, hewan endemik dengan nama latin Nisaetus Bartelsi ini keunikan berupa jambulnya yang menonjol sekitar 2-4 helai dengan panjang 12 cm. Apalagi ketika mengepakkan sayapnya secara kuat, elang jawa ini akan memiliki kemampuan terbang tinggi sehingga nampak gagah dan jantan. 5. Kukang Jawa Pada 6 Januari 2022 lalu, seekor kukang jawa dengan nama latin Nycticebus Javanicus ini dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sebelumnya, hewan endemik tersebut ditemukan oleh masyarakat di kawasan pemukiman. Atas kesadaran masyarakat mengenai pelestarian hewan endemik, maka hal tersebut patut untuk diapresiasi. Kukang jawa merupakan salah satu jenis primata yang hidup secara nokturnal alias aktif mencari mangsa ketika malam hari. Ciri khas dari primata ini adalah adanya kelenjar racun yang ada di bawah ketiaknya, berfungsi sebagai pertahanan dari predator yang hendak memangsanya. Saat ini, kebanyakan kukang jawa tersebar di kawasan taman nasional, cagar alam, atau suaka margasatwa. Hal tersebut karena hewan endemik ini telah masuk dalam daftar hewan langka sehingga harus dilindungi, terlebih dengan adanya aturan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Hewan Endemik di Pulau Kalimantan 1. Orangutan Kalimantan Orangutan Borneo Adult male Bornean orangutan Pongo pygmaeus in rainforest canopy, Gunung Palung National Park, Borneo, West Kalimantan, Indonesia Orangutan kalimantan dengan nama latin Pongo Pygmaeus ini hidup di Pulau Kalimantan, yang mana mencakup wilayah Kalimantan Barat dan Serawak Malaysia. Habitatnya berupa daerah hutan hujan tropis yang cocok dengan keadaan di Pulau Kalimantan, terlebih lagi kebiasaannya yang membuat sarang dari dedaunan di pepohonan lebat. Sebenarnya, morfologi dari orangutan kalimantan ini tidak jauh berbeda dengan orangutan sumatera, yakni termasuk hewan diurnal aktif di siang hari dan arboreal hidup di pepohonan. Tubuh hewan endemik ini umumnya diselimuti rambut merah kecoklatan dengan kepala yang lebih besar dan posisi mulut yang tinggi. Pada orangutan jantan, memiliki benjolan di kedua sisi wajahnya. Sayangnya, spesies hewan endemik ini telah masuk dalam status endangered alias terancam punah sejak tahun 1994. Maka dari itu, pihak pemerintah menetapkan adanya UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya untuk menjaga orangutan kalimantan dari kepunahan, terutama yang disebabkan oleh kerusakan hutan dan perburuan liar. 2. Rangkong Papan Burung Rangkong Papan dengan nama latin Buceros Bicornis ini apabila dewasa dapat berukuran panjang hingga 160 cm. Biasanya, rangkong papan betina memiliki ukuran lebih kecil dari rangkong papan jantan. Untuk membedakan keduanya, cukup melihat dari warna matanya saja, yakni mata biru untuk burung betina sementara warna merah untuk burung jantan. Makanan utama dari hewan endemik ini adalah serangga, cacing, siput, amfibi, hingga kepiting. Tidak jarang pula mereka akan mengonsumsi buah-buahan, salah satunya adalah buah pala dan buah drupa. Apabila ukuran mangsanya lebih besar, maka akan dibenturkan terlebih dahulu pada dahan pohon dan melunakannya di dalam paruh, lalu baru ditelan. Sayangnya, burung endemik ini semakin punah karena maraknya penebangan pohon dan pembukaan lahan secara besar-besaran. Terlebih lagi adanya kepercayaan akan dagingnya yang dapat dikonsumsi sebagai obat tradisional membuat perburuan liar burung rangkong papan semakin bar-bar. 3. Monyet Bekantan Apakah Grameds tahu bahwa hewan endemik yang satu ini ternyata merupakan maskot dari taman hiburan Dunia Fantasi Dufan yang terletak di Jakarta? Yap, dengan ciri khas hidung besar, monyet bekantan juga dijuluki sebagai “monyet belanda” oleh penduduk setempat. Monyet bekantan tidak membuat sarang khusus untuk tempatnya tidur, sehingga untuk istirahat hanya mencari pohon di sekitar tepi sungai saja. Keberadaan monyet bekantan masih tersebar di hutan-hutan Pulau Kalimantan, terutama di Taman Nasional Tanjung Puting. Namun meskipun demikian. monyet bekantan juga rentan akan kepunahan, sebab hutan mangrove semakin rusak akhir-akhir ini. Terlebih lagi adanya kebakaran hutan tentu saja mengancam populasi monyet bekantan sebagai hewan endemik Indonesia. 4. Ikan Pesut Mahakam Ikan pesut mahakam alias Irrawaddy Dolphin ini disebut-sebut sebagai lumba-lumba sungai sejati, sebab berhabitat di sungai alias air tawar. Padahal sebenarnya, terdapat beberapa perbedaan antara ikan pesut mahakam dengan lumba-lumba, mulai dari bentuk moncongnya, bentuk kepala, hingga habitat aslinya. Di Kalimantan, ikan pesut mahakam selalu menjadi “lakon” dalam cerita rakyat maupun legenda setempat. Sayangnya, saat ini populasi hewan endemik ini semakin punah, sebab adanya aktivitas ponton, baik dari perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun tambang batu bara. Hewan Endemik di Pulau Sulawesi 1. Burung Maleo Burung Maleo biasanya hidup di hutan tropis dataran rendah yang ada di Sulawesi Tengah dan Gorontalo, terutama di kawasan Taman Nasional Lore Lindu populasi hewan endemik ini sekitar 320 ekor. Ciri khas dari burung maleo berupa adanya tonjolan di bagian kepala, ukuran telur yang besar, dan tidak suka untuk mengerami telurnya. Sayangnya, adanya illegal logging, kebakaran hutan, hingga perburuan liar menyebabkan burung maleo menjadi hewan endemik yang terancam punah. Mengingat burung ini tidak mengerami telurnya, sehingga rentan diserang oleh predator, salah satunya adalah biawak dan kadal. Burung maleo biasanya menempatkan telurnya di dalam tanah, yang mana akan dapat dicium baunya oleh kadal dengan mudah. 2. Kuskus Beruang Sulawesi Hewan endemik dengan nama latin Ailurops Ursinus ini menyukai habitat berupa hutan tropis dataran rendah, misalnya di Kepulauan Butung, Kepulauan Muna, dan Kepulauan Peleng. Ciri khas dari kuskus beruang sulawesi adalah ekornya dapat digunakan untuk bergantungan atau melilit batang pohon ketika dirinya tengah mencari makan. Sama halnya dengan hewan endemik lain, kuskus beruang sulawesi juga terancam punah karena terjadinya perburuan dan perdagangan liar. Tidak hanya itu saja, hutan tropis yang menjadi tempat tinggalnya saat ini banyak mengalami kerusakan akibat upaya pembukaan lahan demi area pertanian dan pemukiman penduduk. 3. Tarsius Tarsius adalah hewan endemik yang memiliki bentuk tubuh unik, yakni berupa tulang tarsal yang memanjang dan membentuk pergelangan, sehingga dapat membuatnya melompat pada jarak 3 meter dari satu pohon ke pohon lain. Tarsius adalah jenis hewan nokturnal, sehingga mereka akan melakukan aktivitas berupa berburu mangsa ketika malam hari. Sasaran mangsanya adalah jangkring, burung kecil. kelelawar, dan reptil kecil. Maraknya aktivitas pemeliharaan tarsius sebagai hewan peliharaan juga menjadi penyebab hewan endemik ini mengalami kepunahan. Bahkan, tarsius juga termasuk dalam kategori 25 primata yang paling terancam punah di dunia. Padahal, tarsius itu tidak pernah betah disentuh oleh manusia lho, sehingga seringnya mereka akan bereaksi berupa membenturkan kepala ke pohon sebagai upaya bunuh diri. 4. Babi Rusa Hewan endemik yang masuk dalam jenis babi liar ini biasanya hidup di sekitar Pulau Sulawesi, mulai dari Pulau Togean, Pulau Sula, Pulau Malenge, dan lainnya. Habitat dari babi rusa adalah daerah hutan hujan tropis dan merupakan hewan herbivora. Bentuk tubuh babi rusa ini hampir mirip dengan babi tetapi ukurannya lebih kecil. Terdapat perbedaan yang mencolok antara babirusa dengan babi, yakni babirusa memiliki taring panjang yang menembus moncongnya. Maraknya perdagangan liar pada babi rusa yang mengincar dagingnya menjadikan hewan endemik ini masuk kategori langka dan wajib dilindungi oleh pihak pemerintah dan masyarakat setempat. Tidak hanya itu saja, adanya pembabatan hutan secara liar juga menjadi penyebab langkanya populasi babi rusa. Hewan Endemik di Pulau Papua 1. Kanguru Pohon Mantel Emas Ternyata, keberadaan hewan kanguru tidak hanya ada di Australia saja lho, tetapi di Tanah Papua juga ada, yakni kanguru pohon mantel emas. Ciri khas dari hewan endemik ini adalah warna bulunya yang kuning keemasan di sepanjang bagian leher, pipi, dan kaki. Pada tahun 2021 lalu, diadakanlah PON Pekan Olahraga Nasional XX di Papua dan menjadikan hewan endemik ini sebagai maskotnya. Sebenarnya, keberadaan kanguru pohon mantel emas ini baru diketahui oleh publik pada tahun 1990 oleh Pavel German di Gunung Sapau. Sayangnya, hewan endemik ini terancam punah karena kerusakan hutan dan perburuan liar sehingga mempengaruhi populasi di alam. Bahkan pihak The International Union for Conservation of Nature IUCN juga menyatakan bahwa kanguru jenis ini masuk dalam kategori kritis dan terancam punah. 2. Burung Cendrawasih Grameds pasti sudah tahu bahwa burung yang dikenal sebagai burung surga ini adalah ikon terkenal dari Tanah Papua. Yap, burung cendrawasih dikenal demikian sebab memiliki bulu berwarna merah dengan corak warna-warni pada bagian kepalanya. Habitatnya banyak ditemukan di hutan lebat dataran tinggi. Uniknya, ketika musim kawin datang, burung cendrawasih jantan akan memamerkan bulunya yang indah tersebut disertai tarian dan suara layaknya nyanyian di atas pohon. Hal tersebut dilakukan untuk menarik perhatian burung cendrawasih betina. Sayangnya, perburuan liar burung cendrawasih yang masih marak terjadi menjadikan hewan endemik ini terancam punah. Perburuan liar tersebut mengincar bulu-bulu indahnya yang mana biasa digunakan sebagai penghias topi. 3. Labi-Labi Moncong Babi Hewan endemik dengan nama latin Carettochelys Insculpta ini memiliki bentuk mirip kura-kura, sebab adanya cangkang di tubuhnya. Hal yang membedakannya dengan kura-kura adalah adanya hidung panjang layaknya moncong babi. Habitat dari labi-labi ini biasanya di sungai, rawa, dan air payau yang tersebar di Pulau Papua. Bahkan tak jarang, hewan endemik ini juga ditemukan di Australia bagian utara. Sayangnya, labi-labi moncong babi ini termasuk hewan langka dan wajib dilindungi atas adanya Permen LHK Nomor Hal tersebut karena maraknya perdagangan liar dan bahkan diselundupkan untuk tujuan komersial. Nah, itulah ulasan mengenai hewan-hewan endemik yang tersebar di pulau-pulau Indonesia. Sebagian besar hewan-hewan endemik ini termasuk dalam daftar hewan dilindungi oleh pihak pemerintah Indonesia, berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sebagai generasi masa depan, kita harus berperan besar dalam upaya pelestarian hewan-hewan endemik ini ya… Baca Juga! Apa Itu Hewan Ruminansia? 7 Hewan Purba yang Masih Hidup di Indonesia Pengertian dan Ciri-Ciri Hewan Melata Pengertian dan Karakteristik Hewan Karnivora Contoh Hewan Avertebrata Ciri-Ciri Hewan dan Habitatnya 10 Hewan Nokturnal yang Beraktivitas Pada Malam Hari Pengertian dan Contoh Hewan Omnivora ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah." Custom log Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda Tersedia dalam platform Android dan IOS Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis Laporan statistik lengkap Aplikasi aman, praktis, dan efisien SpesiesHarimau Langka/Punah Di Dunia Pertama - tama mohon maaf bila ternyata sudah ada yang memosting seeprti ini sebelumnya. Disini saya hanya berbagi informasi :1thumbup :1thumbup :1thumbup Dan jangan lupa sebagai kaskuser yang baik hati untuk selalu meninggalkan Komentar ato Rate yaa.. :toast :toast :toast Mungkin agan dan aganwati disini sudah tidak asing lagi dengan hewan yang satu ini, Ya, Creative Commons/Sakurai Midori Beruk Mentawai, hewan endemik Mentawai – Pernahkah teman-teman mendengar hewan bernama beruk mentawai? Beruk Mentawai atau bokoi ini memiliki nama ilmiah Macaca pagensis. Beruk Mentawai merupakan salah satu hewan endemik Kepulauan Mentawai, Sumatera. Dalam bahasa Inggris hewan ini dikenal dengan nama Mentawai Island Macaque. Berstatus Terancam Punah Beruk Mentawai merupakan salah satu fauna yang terancam punah. Primata ini memiliki rambut berwarna cokelat gelap pada bagaian belakang tubuh mereka. Sementara pada bagain leher, bahu, dan bagain bawah tubuh, warnanya cokelat pucat. BACA JUGA Uniknya Monyet Jepang yang Suka Berendam di Air Panas Perbedaan Beruk Mentawai dengan Beruk Lainnya O iya, beruk itu ada banyak jenisnya. Nah, yang membedakan beruk mentawai dengan beruk lainnya adalah bagian pipi yang berwarna lebih gelap. Selain itu, mahkota beruk mentawai berwarna cokelat. Lalu rambut pada dahi lebih panjang serta memiliki kantong pipi yang terlihat jelas. Artikel ini merupakan bagian dari Parapuan Parapuan adalah ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya. PROMOTED CONTENT Video Pilihan Unduhfoto Nene Juga Dikenal Sebagai Hawaiian Goose Adalah Spesies Endemik Angsa Ke Kepulauan Hawaii Burung Resmi Negara Bagian Hawaii Nene Secara Eksklusif Ditemukan Di Alam Liar Di Pulau Maui Kauaʻi Dan Hawaiʻi Hawaii H ini sekarang. Dan cari lebih banyak gambar stok bebas royalti yang menampilkan Angsa hawaii foto yang tersedia untuk diunduh dengan cepat dan mudah di perpustakaan iStock. 13 Oktober 2021 WIB • 3 menit Selain dikenal karena budaya dan objek wisatanya, Mentawai juga memiliki kuliner tradisional yang layak mendapatkan sorotan. Tak hanya sagu dan keladi yang jadi makanan pokok, masyarakat Mentawai juga mengolah bahan-bahan tak biasa sebagai masakan lezat, seperti ulat kayu, ulat sagu, hingga kepiting yang menjadi endemik daerah tersebut. Mentawai sejatinya merupakan sebuah kabupaten kepulauan yang terletak di pulau Sumatra dan daerahnya dikelilingi oleh Samudera Hindia. Mentawai menjadi bagian dari serangkaian pulau non-vulkanik dan gugus kepulauan tersebut merupakan puncak-puncak dari punggung pegunungan bawah laut. Kabupaten tersebut terdiri dari empat kelompok pulau utama, yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan yang mayoritas dihuni oleh masyarakat Suku Mentawai dan Suku Minangkabau. Jika berkesempatan mengunjungi Mentawai, tentunya harus meluangkan waktu untuk mencicipi kulinernya yang khas dan sulit ditemukan di daerah lain. Berikut daftarnya Mencicipi Nasi Menok dan Tepo Tahu, Hidangan Tradisional Khas MagetanAnggau siboik-boikHidangan yang satu ini agaknya terasa lebih 'normal' dari dua makanan sebelumnya. Namun, anggau siboik-boik juga terbilang unik karena bahan dasarnya adalah hewan endemik Mentawai. Anggau merupakan hewan jenis kepiting dengan cangkang berwarna ungu, badannya berwarna hitam, sedangkan kaki dan capitnya kemerahan. Biasanya musim anggau adalah Agustus hingga September. Karena waktunya sebentar, tak heran bila masyarakat berbondong-bondong mendapatkan kepiting ini. Bahkan, musim anggau ini dijadikan agenda wisata oleh pemerintah setempat yang dikenal dengan nama Festival Muanggau. Untuk membuat hidangan anggau siboik-boik, kepiting harus dibersihkan dan dibelah jadi dua bagian. Kemudian, dibumbui dengan bawang merah, bawang putih, jahe, daun kunyit, dan lada. Semua bahan dicampur jadi satu, ditambahkan air, dan direbus hingga matang serta bumbunya meresap. Setelah matang, anggau biasa disantap dengan subbet, hidangan perpaduan antara keladi, pisang, dan kelapa yang dibentuk bulat-bulat serupa klepon. Ragam Kuliner Khas Nias dengan Nama Unik, Hambae Nititi hingga Gowi NifufuBatraSeperti halnya di Papua, masyarakat Suku Mentawai juga terbiasa menyantap ulat sagu yang disebut batra. Biasanya, batra dikonsumsi usai panen sagu, yang akan menjadi makanan utama mereka. Setelah sagu ditebang, dalam rentang waktu tiga bulan akan muncul larva dan akan dipanen sebagai lauk. Paling mudah mengolah ulat sagu ini dengan dijadikan sate. Cukup ditusuk di bambu, diberi sedikit garam, dan dibakar di atas bara api. Setelah matang, sate batra akan terasa gurih dan beraroma lezat dari proses pembakaran. Selain dibuat sate, batra juga bisa dimasak di dalam bambu. Untuk cara yang satu ini, perut ulat harus diiris terlebih dahulu kemudian dimasukkan ke dalam bambu, dan dibakar. Meski dimasak tanpa air, saat matang, batra akan berair berwarna kekuningan dan siap disantap dengan sagu. Kemudian, batra juga bisa ditumis dengan campuran air kelapa muda atau diasap di atas perapian sampai warnanya menghitam dan kering. Mirip Roti Jala India, Ragit Kudapan Khas Palembang yang LegitToek Hidangan selanjutnya ini mungkin agak mirip dengan batra, yaitu sama-sama dari ulat. Bedanya, toek merupakan hewan serupa cacing atau ulat berwarna putih kekuningan. Biasanya toek didapatkan dari hasil rendaman kayu sungai selama tiga bulan. Namun, kayu yang dipakai pun bukan sembarangan, melainkan kayu tumung, kayu bak-bak, kayu mai geuk-geuk, dan kayu etet. Kayu tumung bisa dibilang paling sering dipakai masyarakat Suku Mentawai karena proses pembuatan toeknya lebih cepat. Kayu tumung Campnosperma auriculatum tumbuh di hutan-hutan dan cukup mudah ditemukan. Setelah direndam tiga bulan di sungai, kayu diangkat dan dibelah dengan kapak. Di dalam kayu tersebut akan terdapat banyak lubang tempat bersarang ulat. Setelah dibersihkan, toek bisa langsung dimakan dan bahkan lebih nikmat disantap mentah-mentah. Namun, bagi yang belum terbiasa, toek juga bisa ditumis dengan bumbu seperti bawang merah dan cabai, kemudian diberi garam dan perasan jeruk nipis. Toek tak selamanya mudah ditemukan sebab proses pembuatannya tergantung pada cuaca. Jika sedang kemarau, toek tidak akan jadi karena air di sungai pun kurang lancar. Namun, pada musim hujan, ketika sungai deras pun, toek bisa kurang bagus karena air cenderung kurang bersih. Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. BerukMentawai (Macaca pagensis). Satwa endemik dan langka dari Kepulauan Mentawai, populasinya antara ekor. Orangutan Sumatera (Pongo abelii). Binatang langka ini populasinya sekitar 7.300 ekor (2004). Simpei Mentawai (Simias concolor). Endemik Kepulauan Mentawai. Populasi 6.000-15.500 ekor (2006). Kanguru Pohon Mantel Emas. Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, dikenal dengan keunikan budaya yang masih terjaga serta kawasan pantai eksotis dengan ombak besar. Tak heran jika Mentawai sering jadi tujuan liburan para peselancar dari berbagai ini terdiri dari empat pulau utama yang berpenghuni, yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Sebagian besar pulau lain hanya ditanami pohon dikaruniai dengan alam yang memesona, Mentawai juga jadi habitat bagi empat primata endemik dilindungi, seperti lutung Mentawai, monyet ekor babi, beruk Mentawai, dan siamang ekor babiMemiliki nama ilmiah Simias Concolor atau sering disebut simakobu, primata mungil ini memiliki ciri khas fisik ekor yang mirip seperti ekor babi dan hidungnya pesek. Uniknya, tangan dan kaki simakobu memiliki panjang yang membedakan jantan dan betina, bisa dilihat dari bentuk tubuhnya. Simakobu jantan dewasa umumnya lebih besar dibanding betina, dan taring jantan relatif lebih jantan memiliki panjang sekitar 49-55 cm dengan berat rata-rata 8,7 kg dan panjang betinanya sekitar 46-55 cm dengan bobot sekitar 7,1 kg. Untuk panjang ekornya sekitar 14-15 cm. Umumnya, warna simakobu cenderung abu-abu gelap, tetapi ada juga yang warnanya cokelat adalah daerah lereng bukit, baik di pedalaman pulau, hutan air payau, hutan air tawar, dan hutan hujan berdataran rendah. Simakobu cenderung hidup dalam kelompok kecil yang terdiri dari satu pejantan, satu atau lebih betina, dan aktivitasnya dilakukan di atas pohon dan jarang turun ke tanah, mereka sering menghabiskan waktu pada siang hari. Untuk makanan, primata asli Indonesia ini biasa mengonsumsi bunga, buah, dan hewan endemik Indonesia, persebaran simakobu terbatas hanya di Kepulauan Mentawai saja. Populasinya diperkirakan semakin menurun dan kini sudah berstatus hewan langka. Hal ini terjadi karena perburuan berlebihan ditambah dengan habitat asli yang rusak dan hilang, mengingat banyak hutan dijadikan perkebunan kelapa Burung Cantik Asli Indonesia yang Sudah Mulai LangkaBeruk MentawaiPrimata lain yang bisa ditemukan di Mentawai ialah beruk atau bokkoi macaca pagensis. Tampilan fisiknya serupa beruk pada umumnya, tetapi ada perbedaan di bagian rambut pipi yang warnanya lebih gelap, serta memiliki mahkota berwarna cokelat, dan rambut di dahi. Ukuran tinggi bokkoi jantan sekitar 45-55 cm dan betina 40-45 cm. Ekornya cukup panjang, sekitar 10-16 kantung pipi yang berfungsi untuk menyimpan stok makanan ketika ia sedang mencari makanan. Ia merupakan hewan diurnal atau aktif di siang hari dan pemakan segala jenis daun, bunga, biji-bijian, dan aneka lebih suka hidup di atas pohon dengan ketinggian 24-36 meter serta hidup berkelompok, mulai dari 5-25 individu. Satu kelompok biasanya dipimpin seekor hewan jantan. Saat mencari makan, bokkoi biasanya berjalan dengan cara merangkak. Ciri khas mereka dalam berkomunikasi adalah teriakan yang melihat keberadaan bokkoi, mereka biasanya hidup di hutan bakau, hutan pantai, hutan sekunder, hutan primer, dan hutan dekat pemukiman. Saat ini, statusnya pun terancam punah dan populasinya semakin Burung Paling Berbahaya di Dunia yang Hidup di Hutan di IndonesiaSiamang kerdilSiamang kerdil juga biasa disebut owa bilou, bilou, atau owa Mentawai dengan nama latin Hylobates klossii. Ia adalah jenis kera unik, mirip siamang, tetapi ukurannya kecil. Sekujur tubuhnya dipenuhi rambut berwarna hitam pekat dan memiliki selaput antara jari kedua dan tubuh bilou jantan dewasa rata-rata sekitar 5,5 kg dengan panjang 45 cm. Primata ini hidup berkelompok, terdiri dari induk jantan dan betina dengan anak-anak yang belum dewasa. Jenis arboreal tertua yang masih hidup ini lebih banyak hidup di atas pohon dengan ketinggian lebih dari 20 habitat alam liar, bilou dapat hidup hingga 25 tahun dan dalam penangkatan yang terawat serta hidupnya tercukupi, ia bisa hidup sampai 40 tahun. Makanan bilou antara lain buah-buahan, telur burung, serangga, vertebrara kecil, dan termasuk jarang turun ke tanah. Ia menggunakan lengan-lengannya yang panjang untuk berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Warga lokal percaya bahwa suara bilou menjadi pertanda datangnya bencana dan seringkali jadi peringatan habitat alam liar, masa hiduo Owa Bilau alias Siamang kerdil bisa hidup hingga 25 tahun dan jika dalam penangkaran yang terawat dan tercukupi kebutuhan hidupnya bisa mencapai 40 UU RI Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI Tahun 1999, bilou termasuk satwa dilindungi. Bilou terancam mengalami kepunahan akibat perburuan, perdagangan, dan kehilangan Endemik Seriwang Sangihe Kini Terancam Pertambangan EmasLutung MentawaiLutung Mentawai merupakan spesies primata yang termasuk dalam famili Cercopithecidae. Ia dikenal dengan nama lokal joja atau lutung Mentawai, ada pula yang menyebutnya Mentawai Leaf Monkey, Golden-bellied Mentawai Island Langur, atau Long-tailed dikatakan termasuk primata dengan rupa paling menawan. Punggunya hitam berkilau, perutnya berwarna cokelat tua, sekitar mukanya berwarna putih, kemudian leher serta ekornya panjang dan hitam seperti pun merupakan hewan diurnal dan pergerakannya kebanyakan bergelantungan dan melompat. Pakan utamanya kebanyakan berupa dedaunan, tetapi masih mengonsumsi buah, biji-bijian, dan yang dimiliki joka adalah ia biasa mengeluarkan bunyi sebelum fajar dan ini dijadikan sebagai tanda teritori kawanannya, sehingga kelompok lain dapat menghindar. Sebagai hewan arboreal sejati, sepanjang hidupnya joja tinggal di atas pohon dan sangat jarak menapak International Union for Conservation of Nature IUCN Redlist tahun 2016, primata ini berstatus Endangered atau terancam punah karena populasinya terus menurun akibat perburuan dan kerusakan berita, artikel, dan konten yang lain di Google News .
  • fnirno16k1.pages.dev/409
  • fnirno16k1.pages.dev/370
  • fnirno16k1.pages.dev/139
  • fnirno16k1.pages.dev/287
  • fnirno16k1.pages.dev/299
  • fnirno16k1.pages.dev/330
  • fnirno16k1.pages.dev/349
  • fnirno16k1.pages.dev/331
  • berikut ini spesies endemik kepulauan mentawai kecuali